Makalah Budaya Organisasi (LENGKAP)


PENDAHULUAN

LATAR BELAKANG

Budaya adalah suatu hasil dari budi dan atau daya, cipta, karya, karsa, pikiran dan adat istiadat manusia yang secara sadar maupun tidak, dapat diterima sebagai suatu perilaku yang beradab.
Kemudian organisasi adalah kesatuan (Entity) sosial yang dikoordinasikan secara sadar dengan sebuah batasan yang relatif dapat diidentifikasikan, yang bekerja atas dasar yang relatif terus-menerus untuk mencapai suatu tujuan bersama atau sekelompok tujuan.

Di makalah ini akan dibahas mengenai teori budaya organisasi yang didalamnya membahas tentang Asal Budaya Organisasi, Pengertian Budaya Organisasi , beberapa Asumsi tentang Budaya Organisasi, Perkembangan Budaya Organisasi dan Pengaruh Budaya Organisasi. Kami menyadari bahwa dalam penyusunan makalah ini masih terdapat banyak kekurangan, karena itu kami menunggu kritik dan saran yang positif demi perbaikan makalah ini.

RUMUSAN MASALAH

o Menjelaskan asal muasal budaya organisasi

o Menjelaskan pengertian budaya organisasi

o Menjelaskan asumsi tentang budaya organisasi

o Menjelaskan perkembangan budaya organisasi

o Menjelaskan pengaruh budaya organisasi

BAB II

PEMBAHASAN



1. Asal muasal budaya organisasi

Ingvar Kamprad, pendiri IKEA. Sumber dari budaya organisasi yang tumbuh di IKEA adalah pendirinya yaitu Ingvar Kamprad.

Kebiasaan, tradisi, dan cara umum dalam melakukan segala sesuatu yang ada di sebuah organisasi saat ini merupakan hasil atau akibat dari yang telah dilakukan sebelumnya dan seberapa besar kesuksesan yang telah diraihnya di masa lalu. Hal ini mengarah pada sumber tertinggi budaya sebuah organisasi: para pendirinya. Secara tradisional, pendiri organisasi memiliki pengaruh besar terhadap budaya awal organisasi tersebut. Pendiri organisasi tidak memiliki kendala karena kebiasaan atau ideologi sebelumnya. Ukuran kecil yang biasanya mencirikan organisasi baru lebih jauh memudahkan pendiri memaksakan visi mereka pada seluruh anggota organisasi. Proses penyiptaan budaya terjadi dalam tiga cara. Pertama, pendiri hanya merekrut dan mempertahankan karyawan yang sepikiran dan seperasaan dengan mereka. Kedua, pendiri melakukan indoktrinasi dan menyosialisasikan cara pikir dan berperilakunya kepada karyawan. Terakhir, perilaku pendiri sendiri bertindak sebagai model peran yang mendorong karyawan untuk mengidentifikasi diri dan, dengan demikian, menginternalisasi keyakinan, nilai, dan asumsi pendiri tersebut. Apabila organisasi mencapai kesuksesan, visi pendiri lalu dipandang sebagai faktor penentu utama keberhasilan itu. Di titik ini, seluruh kepribadian para pendiri jadi melekat dalam budaya organisasi.



2. Pengertian Budaya Organisasi



a. Arti Kata Budaya Secara Etimologis

Menurut kamus Bahasa Indonesia, kata budaya berasal dari bahasa Sansekerta

Bodhya yang berarti akal budi, sinonimnya adalah kultur yang berasal dari bahasa Inggris Culture atau Cultuur dalam Bahasa Belanda. Kata Culture sendiri berasal dari bahasa Latin Colere (dengan akar kata “Calo” yang berarti mengerjakan tanah, mengolah tanah atau memelihara ladang dan memelihara hewan ternak.

b. Arti Kata Budaya Secara Terminologis

Budaya adalah suatu hasil dari budi dan atau daya, cipta, karya, karsa, pikiran dan adat istiadat manusia yang secara sadar maupun tidak, dapat diterima sebagai suatu perilaku yang beradab. Dikatakan membudaya bila kontinu, konvergen

c. Arti Kata Organisasi Secara Etimologis

Tubuh atau alat tubuh, aturan, susunan, perkumpulan dari kelompok tertentu dengan dasar ideologi yang sama.

d. Arti Kata Organisasi Secara Terminologis

Organisasi adalah kesatuan (Entity) sosial yang dikoordinasikan secara sadar dengan sebuah batasan yang relatif dapat diidentifikasikan, yang bekerja atas dasar yang relatif terus-menerus untuk mencapai suatu tujuan bersama atau sekelompok tujuan.

Pengertian Budaya Organisasi

Robbins (1998: 572) menyatakan :

… organizational culture refers to a system of shared meaning held by members that

distinguishes the organization from other organizations. This system of shared meaning

is, on closer analysis, a set of key characteristich that the organization value.

Lebih lanjut Robbins yang diterjemahkan oleh Jusuf Udaya (1994: 479) mengemukakan bahwa: “Budaya organisasi sebagai nilai-nilai dominan yang disebarluaskan dalam organisasi yang dijadikan filosofi kerja karyawan yang menjadi panduan bagi kebijakan organisasi dalam mengelola karyawan dan konsumen”.

Para teoritikus juga menjelaskan bahwa budaya bukanlah sesuatu yang dimiliki oleh organisasi; budaya adalah sesuatu yang merupakan organisasi itu sendiri. Bagi teoritikus, memahami organisasi lebih penting daripada menggeneralisasi sekelompok perilaku atau nilai nilai dari banyak organisasi dan pemikiran ini lah yang mendasai lahirnya teori ini.

Pacanowsky dan O’Donnell Trujillo (1982) menerapkan prinsip-prinsip antropologi untuk mengonstruksi teori. Mereka percaya bahwa budaya organisasi “mengindikasikan apa yang menyusun dunia nyata yang masih ingin diselidiki”

Menurut Wood, Wallace, Zeffane, Schermerhorn, Hunt, Osborn (2001:391), budaya organisasi adalah sistem yang dipercayai dan nilai yang dikembangkan oleh organisasi dimana hal itu menuntun perilaku dari anggota organisasi itu sendiri

Secara umum Budaya organisasi adalah sebuah sistem makna bersama yang dianut oleh para anggota yang membedakan suatu organisasi dari organisasi-organisasi lainnya. Sistem makna bersama ini adalah sekumpulan karakteristik kunci yang dijunjung tinggi oleh organisasi.



3. Asumsi Teori Budaya Organisasi

Menurut Smircich (1983), ada empat fungsi penting budaya organisasi, yaitu:

1) memberikan suatu identitas organisasi kepada para anggota organisasi.,

2) memfasilitasi atau memudahkan komitmen kolektif,

3) meningkatkan stabilitas sistem sosial, dan

4)membentuk perilaku dengan membantu anggota organisasi memilih sense terhadap sekitarnya.



Kemudian, ada tiga asumsi yang mengarahkan teori budaya organisasi menurut Pacanowsky dan O’Donnel, yaitu :

a. Anggota – anggota organisasi menciptakan dan mempertahankan perasaan yang dimiliki bersama mengenai realitas organisasi, yang berakibat pada pemahaman yang lebih baik mengenai nilai - nilai sebuah organisasi.

b. Penggunaan dan interpretasi symbol sangat penting dalam budaya organisasi.

c. Budaya bervariasi dalam organisasi – organisasi yang berbeda, dan interpretasi tindakan dalam budaya ini juga beragam.



Asumsi pertama berhubungan dengan pentingnya orang didalam kehidupan organisasi. Secara khusus individu saling berbagi dalam menciptakan dan mempertahankan realitas. Individu – individu ini mencakup karyawan, supervisor, dan atasan. Pada inti dari asumsi ini, adalah nilai yang dimiliki oleh organisasi. Nilai atau value adalah standar dan prinsip – prinsip dalam sebuah budaya yang memilki nilai intrisik dari sebuah budaya. Nilai menunjukan kepada anggota organisasi mengenai apa yang penting. Pacanowsky melihat nilai berasal dari “pengetahuan moral” dan orang menunjukan pengetahuan moral mereka melalui narasi atau kisah. Realitas ( dan budaya ) organisasi juga sebagian ditentukan oleh simbol – simbol dan ini merupakan asumsi kedua dari teori budaya organisasi. Simbol – simbol mencakup komunikasi verbal dan non verbal didalam organisasi. Seringkali, simbol – simbol ini mengkomunikasikan nilai – nilai organisasi. Simbol dapat berupa slogan yang berupa makna. Asumsi yang ketiga mengenai teori organisasi yang berkaitan dengan keberagaman budaya organisasi. Sederhananya, budaya organisasi sangat bervariasi. Persepsi mengenai tindakan dan aktifitas didalam budaya – budaya ini seberagam dengan budaya itu sendiri.

Tiga asumsi dari teori budaya organisasi ini didasari oleh keyakinan bahwa ketika para peneliti mempelajari budaya organisasi, mereka akan menemukan jaring yang kompleks dan rumit. Pacanowsky dan O’Donnel Trujillo yakin bahwa perspektif interpretasi simbolik memberikan gambaran realistis mengenai budaya tentang sebuah perusahaan. Metode yang digunakan dalam penelitian teori budaya organisasi ini, dari Clifford Geertz yaitu pemahaman etnografi.

Geertz ( 1973 ) beragumen bahwa untuk memahami budaya, seseorang harus melihat dari sudut pandang anggota budaya tersebut. Untuk melakukan hal ini Geertz percaya bahwa para peneliti harus menjadi etnograf. Para etnograf sering kali menyertakan kajian mereka yang merupakan penelitian naturalistik dimana mereka yakin bahwa cara yang mereka gunukan dalam mempelajari budaya lebih natural dibandingkan dengan cara yang digunakan oleh para peneliti kuantitatif.

Dengan mengingat hal ini, Geertz menyatakan bahwa etnografi bukan ilmu eksperimental melainkan sebuah metode yang menguak makna. Menemukan makna merupakan hal yang paling penting etnografi. Dalam tulisannya, Geertz ( 1973 ) menhimpulkan bahwa etnografi sejenis deskripsi tebal ( Thick Description ) atau penjelasan mengenai lapisa – lapisan rumit dari makna yang mendasari sumber budaya. Karena itu para etnograf berusaha memahami deskripsi tebal dari budaya untuk “menyelediki makna yang tidak tampak dari sesuatu”. Geertz percaya tidak ada analisis budaya yang lengkap karena semakin dalam seseorang berusaha masuk, semakin kompleks budaya tersebut. Oleh karena itu sangat tidak mungkin untuk sepenuhnya pasti mengenai sebuah budaya dan norma atau nilainya.

Teori budaya organisasi berakar pada etnografi, dan budaya organisasi hanya dapat dilihat dengan mengadopsi prinsip – prinsip etnografi. Ada komponen yang penting dalam Teori Budaya Organisasi, yaitu Performa Komunikatif

Pacanowsky dan O’Donnel Trujilo (1982) menyatakan bahwa anggota organisasi melakukan performa komunikasi tertentu yang berakibat pada munculnya budaya organisasi yang unik. Performa adalah metafora yang menggambarkarkan proses simbolik dari pemahaman akan perilaku manusia dalam sebuah organisasi.

Performa ini terbagi atas :



1. Performa ritual

Semua performa komunikasi yang terjadi secara teratur dan berulang disebut performa ritual. Ritual terdiri atas empat jenis, yaitu personal,tugas, sosial dan organisasi. Ritual Personal mencakup semua hal yang anda lakukan secara rutin ditempat kerja. Misalnya, banyak anggota organisasi secara teratur mengecek pesan sura atau e-mail mereka ketika mereka bekerja setiap hari. Ritual Tugas adalah perilaku rutin yang dikaitkan dengan pekerjaan seseorang. Ritual tugas membantu menyelesaikan pekerjaan. Misalnya, ritual tugas seorang karyawan di Departemen Kendaraan Bermotor termasuk mengeluarkan ujian mata dan tertulis, mengambil foto dari calon pengemudi, dan melaksanakan ujian mengemudi, memverifikasi asuransi mobil, dan menerima pembayaran. Ritual Sosial adalah rutinitas verbal dan nonverbal yang biasanya mempertimbangkan interaksi dengan orang lain. Misalnya, beberapa anggota organisasi berkumpul bersama untuk menghabiskan waktu bersama pada hari jumat untuk merayakan akhir pekan. Ritual sosial juga dapat mencakup perilaku nonverbal didalam organisasi. Ritual Organisasi adalah kegiatan perusahaan yang sering dilakukan seperti rapat divisi, rapat fakultas dan bahkan piknik perusahaan.



2. Performa Hasrat

Performa hasrat merupakan kisah – kisah mengenai organisasi yang sering kali diceritakan secara antusias oleh para anggota organisasi dengan orang lain.



3. Performa sosial

Perfoma sosial merupakan perpanjangan sikap santun dan kesopanan untuk mendorong kerja sama diantara anggota organisasi. Pepatah mengatakan “hal kecil memulai hal yang besar” bererhubungan langsung dengan performa ini. baik dengan senyuman maupun sapaan “selamat pagi”, menciptakan suatu rasa kekeluargaan seringkali merupakan bagian dari budaya organisasi.



4. Performa politik

Budaya ini menjalakan kekuasaan atau kontrol. Walaupun demikian banyak organisasi bersifat hararki: harus ada seseorang dengan kekuasaan untuk mencapai sesuatu dan memiliki kontrol yang cukup untuk mempertahankan dasar – dasar yang ada. Ketika anggota organisasi terlibat dalam performa politis, mereka mengkomunikasikan keinginan untuk mempengaruhi orang lain.



5. Performa enkulturasi

Performa ini merujuk pada bagaimana anggota mendapatkan pengetahuan dan keahlian untuk dapat menjadi anggota organisasi yang mampu mengkontribusi. Performa ini berupa sesuatu yang berani maupun yang hati – hati, dan performa ini mendemonstrasikan kompetensi seorang anggota dalam sebuah organisasi.





4. Perkembangan Budaya Organisasi



Teori Organisasi berkembang melalui 3 pendekatan yang munculnya berurutan, yaitu:

· Pendekatan Klasik yang memperkenalkan cara membagi kegiatan kepada anggota organisasi sehingga setiap orang mendapat beban kerja yang merata dan sesuai kapasitasnya.

· Pendekatan Neoklasik menemukan bahwa iklim organisasi juga perlu dijaga agar selain ditugasi beban kerja yang merata dan sesuai kapasitasnya, anggota organisasi juga bisa bekerja dengan nyaman karena dalam organisasi terdapat suasana kerja yang baik.

· Pendekatan Modern menemukan bahwa setelah beban kerja terdistribusi dengan baik dan suasana kerja juga nyaman, organisasi juga perlu disesuaikan dengan kondisi luar (lingkungannya) agar bisa hidup dan berkembang dengan baik.



Organisasi dipengaruhi oleh lingkungannya sehingga perlu dipahami cara untuk menginventarisasi dan mempelajari elemen-elemen lingkungan secara lengkap. Tetapi , sifat lingkungan ini yang paling berbahaya bagi suatu organisasi adalah ketidakpastiannya.





5. Pengaruh Budaya Organisasi



Robbins (1994) berpendapat bahwa Budaya Organisasi yang kuat akan meningkatkan perilaku yang konsisten dari anggota suatu organisasi. Oleh karena itu, budaya organisasi dapat dijadikan sebagai sarana yang kuat untuk mengontrol dan dapat bertindak sebagai sebuah substitusi bagi formalisasi. Budaya Organisasi ini sangat berpengaruh, karena semakin kuat budaya suatu organisasi maka semakin lemah atau rendah formalisasi yang berlaku di organisasi tersebut. Maka dapat kita tarik suatu kesimpulan bahwa budaya organisasi berpengaruh signifikan dan positif terhadap kinerja organisasi, kemudian kinerja organisasi juga berpengaruh signifikan dan positif terhadap kepuasan kerja anggota organisasi. Disini terjadi hubungan timbal balik antara budaya organisasi dan kinerja organisasi karena budaya organisasi juga berpengaruh signifikan dan positif terhadap kepuasan kerja anggota organisasi tersebut.







BAB III

PENUTUP

KESIMPULAN



Budaya organisasi adalah sebuah sistem makna bersama yang dianut oleh para anggota yang membedakan suatu organisasi dari organisasi-organisasi lainnya. Sistem makna bersama ini adalah sekumpulan karakteristik kunci yang dijunjung tinggi oleh organisasi. Teori Budaya Organisasi ini, dicetuskan oleh Pacanowsky dan O'Donnell Trujillo. Maka dari pembahasan ini dapat kita disimpulkan bahwa teori budaya organisasi ini merupakan teori yang memiliki pengaruh penting dalam teori dan penelitian di bidang komunikasi organisasi. Dengan kata lain, budaya organisasi adalah esensi dari kehidupan organisasi. Orang-orang memegang peranan penting dalam organisasi dan karena itu, sangat penting untuk mempelajari perilaku dalam organisasi. Pacanowsky dan O’donnel Trujillo menyatakan bahwa anggota-anggota dari organisasi terlibat didalam banyak perilaku komunikasi yang memberikan kontribusi bagi budaya organisasi tersebut, budaya organisasi ini dapat diuraikan dalam berbagai cara salah satunya melalui metode yang digunakan Clifford Geertz yaitu pemahaman etnografi. Oleh karena itu, budaya organisasi disimpulkan pula sebagai “ruh” organisasi karena bersemayam filosofi, misi dan visi organisasi yang akan menjadi kekuatan penting untuk berkompetisi didalam organisasi itu sendiri.

0 Response to "Makalah Budaya Organisasi (LENGKAP)"

Post a Comment