Efektifitas Pelaksanaan ESQ Terhadap Mahasiswa (MAKALAH KOMUNIKASI)


A. Latar Belakang
Perkembangan ilmu pengetahuan diakui telah banyak memberikan jasa sangat besar kepada umat manusia dalam bentuk sumbangan-sumbangan berupa kemajuan tekhnologi. Kondisi masyarakat
yang terus bergerak maju membuat kehidupanpun turut mengimbangi kemajuan tersebut hingga perlahan-lahan ikut merubah gaya hidup masyarakat. Anak muda sebagai bagian dari masyarakat sudah tentu tak luput berkontribusi di dalam perubahan-perubahan tadi. Kelompok anak muda saling berhubungan, mereka bersosialisasi, baik dengan lingkungan maupun bersama komunitasnya, mereka juga bergerak dengan mobilitas tinggi. Anak muda, dengan gaya hidupnya, menggerakkan pasar gaya hidup dengan sangat hebat, dari cara mereka berpakaian, makanan dan minuman yang mereka santap, aktivitasnya sangat beragam, teknologi yang digunakan, dan tentunya cara mereka berkomunikasi, semuanya sangat hebat. Di sisi lainnya, anak muda dengan perubahan luar biasa ini adalah sebagian kelompok yang juga tengah menikmati pendidikan, yakni para mahasiswa di perguruan tinggi. Perkembangan gaya hidup pada mahasiswa secara otomatis juga mempengaruhi pada rasa keberagamaan dan bagimana mereka menanggapi perubahan-perubahan tersebut tanpa melupakan norma-norma agama.

Menurut PP RI no 30 tahun 1990 tentang pendidikan tinggi mahasiswa adalah peserta didik yang terdaftar dan belajar pada perguruan tinggi tertentu, sedangkan yang dimaksud dengan perguruan tinggi dalam PP tersebut adalah satuan pendidikan yang menyelenggarakan pendidikan tinggi. Sebagai satuan pendidikan perguruan tinggi bertujuan untuk menyiapkan peserta didik menjadi anggota masyarakat yang memiliki kemampuan akademik dan/atau professional yang dapat menerapkan, mengembangkan dan/atau menciptakan ilmu pengetahuan, tekhnologi dan/atau kesenian. Dengan adanya tujuan perguruan tinggi tersebut menjadikan mahasiswa memiliki kewajiban untuk mematuhi semua peraturan atau ketentuan yang berlaku di perguruan tinggi yang bersangkutan, menjaga sarana dan prasarana, ketertiban dan keamanan perguruan tinggi serta menghargai ilmu pengetahuan dan menjunjung tinggi kebudayaan nasional. Disamping itu tingkat keberagamaan mahasiswa juga turut menjadi hal yang tak kalah penting sebagai penyeimbang setiap prilaku dan pola hubungan yang tercipta dalam lingkungan sosial tempat mereka berada. Namun seiring berkembangnya zaman yang juga didukung perkembangan tekhnologi yang tak kalah pesat membuat minat mahasiswa terhadap hal-hal itu semakin menurun bahkan tidak sedikit mahasiswa yang justru tidak memahami kewajibannya sebagai mahasiswa. Kemunduran peran mahasiswa ini disebabkan oleh factor internal maupun factor eksternal, factor internal yaitu factor yang berasal dari dalam diri mahasiswa itu sendiri seperti kurangnya motivasi maupun kesadaran dari dalam diri tentang sebagaimana seharusnya seorang mahasiswa serta kurangnya menanamkan nilai-nilai agama dalam setiap aktivitasnya dan factor eksternal adalah factor yang berasal dari lingkungan sekitar yang juga dapat mempengaruhi seperti teman atau pola kegiatan yang dilakukan.

Menyadari terjadinya pergeseran budaya dan prilaku pada mahasiswa tersebut membuat beberapa peruruan tinggi mencoba mencari berbagai solusi yang dianggap mampu memperbaiki pola hidup mahasiswa yang sudah banyak keliru. Salah satu solusi yang sering dipilih untuk memperbaiki pola hidup mahasiswa tersebut oleh berbagai perguruan tinggi adalah dengan pelaksanaan berbagai training baik yang sifatnya membangun kepribadian yang lebih baik pada mahasiswa maupun training yang sifatnya memotivasi mahasiswa melalui pembentukan rasa keberagamaan yang kuat. Universitas islam Indonesia sebagai perguruan tinggi yang menjunjung nilai-nilai islam dalam segala jenis pelaksanaan teknis dan non teknis nya membuat perguruan tinggi tersebut memilih penanaman dan pembentukan rasa keberagamaan ata religiusitas yang lebih kuat pada mahasiswanya sebagai upaya mencegah dan memperbaiki pola hidup mahasiswa yang banyak keliru. Hal ini dilakukan karena nilai agama dan religiusitas seeorang dianggap mampu memeberikan kontribusi besar terhadap sikap dan prilakunya.

Religiusitas dapat diartikan sebagai pengalaman batin dari seseorang ketika dia merasakan adanya tuhan, khususnya apabila efek dari pengalaman itu terbukti dalam bentuk prilaku yaitu ketika sesorang secara aktif berusaha menyesuaikan hidupnya dengan tuhan atau dengan kata lain religiustitas adalah internalisasi nilai-nilai agama dalam diri seseorang. Rasa keberagamaan atau religiusitas tidak muncul begitu saja melainkan sebuah pengalaman batin yang mengkristal dalam diri seseorang, oleh karena itu keberadaanya membutuhkan proses yang berkesinambungan dan kontinyu. Pendidikan islam adalah salah satu solusi yang dapat dilakukan dalam upaya ini, pendidikan islam yang dimaksud disini bukan hanya pendidikan dari segi IQ seseoorang, namun aspek lain seperti SQ dan EQ juga menentukan dalam perkembangan kepribadian dan religiusitas seseorang.

Pada awal abad kedua puluh, IQ pernah menjadi isu besar. Kecerdasan intelektual atau rasional adalah kecerdasan yang digunakan untuk memecahkan masalah logika maupun strategis. Para psikolog menyusun berbagai tes untuk mengukurnya, dan tes – tes ini membagi manusia ke dalam berbagai tingkatan kecerdasan, yang kemudian lebih dikenal dengan istilah IQ (Intelligence Quotient). Menurut teori ini semakin tinggi IQ seseorang, semakin tinggi pula kecerdasannya. Hingga akhirnya pada pertengahan 1990-an Daniel Goleman mempopulerkan penelitian dari banyak neorolog dan psikolog yang menunjukkan bahwa kecerdasan emosional (EQ) sama pentingnya dengan IQ. EQ memberikan kita rasa empati, cinta, motivasi, dan kemampuan untuk menanggapi kesedihan atau kegembiraan secara tepat. Sebagaimana yang dinyatakan Goleman, EQ merupakan persyaratan dasar untuk menggunakan IQ secara efektif. Jika bagian-bagian otak untuk merasa telah rusak, kita tidak dapat berpikir efektif. Pada akhir abad kedua puluh, muncul Q jenis ketiga, gambaran utuh kecerdasan manusia dapat dilengkapi dengan perbincangan mengenai kecerdasan spiritual (SQ). SQ yang dimaksud adalah kecerdasan untuk menghadapi dan memecahkan persoalan makna dan nilai, yaitu kecerdasan untuk menempatkan perilaku dan kita dalam konteks makna yang lebih luas dan kaya, kecerdasan untuk menilai bahwa tindakan atau jalan hidup seseorang lebih bermakna dibandingkan dengan yang lain. SQ adalah landasan yang diperlukan untuk memfungsikan IQ dan EQ secara efektif bahkan SQ merupakan kecerdasan tertinggi manusia.

Salah satu lembaga pelatihan yang sering dipilih oleh berbagai perguruan tinggi untuk membangun ketiga aspek kecerdasan manusia yang diharapkan dapat memperbaiki pola hidup mahasiswa adalah training ESQ 165 (Emotional Spiritual Quetient). Training ESQ (Emotional Spiritual Quetient) 165 adalah salah satu metode merubah paradigma seseorang tentang tuhan dan agama secara cepat dengan menggunakan pendekatan emotional spiritual. Training ESQ sendiri adalah training kepemimpinan dan pengembangan kepribadian dengan tujuan membentuk karakter tangguh dan memadukan konsep kecerdasan intelektual (IQ), kecerdasan Emotional (EQ) dan kecerdasan Spiritual (SQ) secara terintregasi dan transendental. Melihat dari konsep dan tujuan yang diusung ESQ 165 seharusnya training tersebut mampu menjadi salah satu factor yang mendukung terhadap peningkatan religiusitas seseorang terutama dalam hal ini adalah mahasiswa. Mahasiswa merupakan masa awal usia dewasa, masa dimana seseorang mulai menetapkan pola hidup yang diyakini dapat memenuhi kebutuhan hidupnya. Oleh karena itu Training ESQ sebagai training pengembangan kepribadian dengan penggabungan tiga kecerdasan yakni IQ, EQ, dan SQ merupakan salah satu media yang bisa membantu mahasiswa menentukan dan meperbaiki polah hidup termasuk kehidupan keagamaan yang akan dipilihnya. Dari hal inilah kemudian penulis tertarik untuk melakukan penelitian dengan tema “Efektifitas Pelaksanaan Training ESQ 165 (Emotional Spiritual Quotient) terhadap Tingkat Religiusitas Mahasiswa Ilmu Komunikasi Universitas Islam Indonesia Yogyakarta”. Dengan dilakukannya penelitian ini diharapkan mampu menjawab tentang bagaimana efektifitas pelaksanaan training ESQ itu sendiri.

B. Tujuan Penelitian

Tujuan Penelitian ini adalah untuk mengetahui bagaimana efektifitas pelaksanaan training ESQ 165 terhadap tingkat religiusitas mahasiswa ilmu komunikasi 2013 universitas islam Indonesia.



C. Metodologi Penelitian



a. Paradigma dan Metode

Metode penelitian kuantitatif dapat diartikan sebagai metode penelitian yang berlandaskan pada filsafat positivism, digunakan untuk meneliti pada populasi atau sampel tertentu, pengumpulan data menggunakan instrument penelitian, analisis data bersifat kuantitatif atau statistic, dengan tujuan untuk menguji hipotesis yang telah ditetapkan (Sugiyono, 2010:8).

Filsafat Positivisme memandang realitas atau gejala atau fenomena itu dapat diklasisfikasikan, relative tetap, konkrit, teramati, terukur, dan hubungan gejala bersifat sebab akibat. Penelitian pada umumnya dilakukan pada populasi atau sampel tertentu yang representatif. Proses penelitian bersifat deduktif, dimana untuk menjawab rumusan masalah digunakan konsep atau teori sehingga dapat dirumuskan hipotesis. Hipotesis tersebut selanjutnya diuji melalui pengumpulan data lapangan. Untuk mengumpulkan data digunakan instrumen penelitian. Data yang telah terkumpul selanjutnya dianalisis secara kuantitatif dengan menggunakan inferensial sehingga dapat disimpulkan hipotesis yang dirumuskan terbukti atau tidak. Penelitian kuantitatif pada umumnya dilakukan pada sampel yang diambil secara random, sehingga kesimpulan hasil penelitian dapat digeneralisasikan pada populasi dimana sampel tersebut diambil.

b. Tipe Penelitian



Jenis penelitian ini termasuk jenis penelitian lapangan (field research) yakni suatu penelitian yang bertujuan melakukan studi mendalam tentang suatu unit sosial dan menghasilkan gambaran tentang unit sosial tersebut. Dalam penelitian ini pendekatan yang dilakukan adalah pendekatan kuantitatif, karena hasil pengamatan akan dihasilkan terlebih dahulu dalam bentuk angka dan diolah menggunakan analisis statistic.



c. Subyek Penelitian

1. Populasi

Populasi dalam penelitian ini adalah keseluruhan mahasiswa ilmu komunikasi 2013 universitas islam Indonesia yang telah mengikuti training ESQ 165.

2. Sampel

Sampel adalah sebagian atau wakil populasi yang diteliti. Teknik pengambilan sampel pada penelitian ini adalah teknik random sampling atau sampel acak. Menurut Ronny Kountur dalam buku metode penelitian (Kountur, 2004:147) berpendapat apabila jumlah anggota dari populasi (N) diketahui, besarnya sampel (n) dapat menggunakan rumus berikut :

n =

n=

n= 60

namun dalam penelitian ini kami mengambil sampel sebanyak 50 responden saja, karena dengan 30% dari jumlah keseluruhan responden dianggap sudah mampu mewakili dan representatif.

d. Metode Pengumpulan Data



Metode pengumpulan data yang dipilih dalam penelitian ini adalah dengan metode angket atau kuisioner. Angket adalah sejumlah pertanyaan tertulis yang digunakan untuk memperoleh informasi dari responden dalam arti laporan tentang pribadinya atau hal-hal yang ia ketahui. Seperti yang telah dijelaskan sebelumnya bahwa metode angket ini merupakan metode pokok yang digunakan untuk mengetahui dan mengidentifikasi kondisi religiusitas mahasiswa yang menjadi subjek penelitian setelah mengikuti training ESQ 165.

Dalam memilih sampel atau subjek penelitian sendiri peneliti menggunakan teknik probability sampling yaitu teknik pengambilan sampel yang didasarkan atas probabilitas bahwa setiap unit sampling memiliki kesempatan yang sama untuk terpilih menjadi sampel. Probability sampling memiliki beberapa teknik untuk mendapatkan sampelnya, teknik yang akan dipilih dalam penelitian ini adalah teknik simple random sampling karena populasi nya pun homogen sehingga hasil penelitian dapat lebih representatif nantinya.



D. Hasil Penelitian



1. Pelaksanaan training ESQ 165 mempunyai hubungan yang signifikan dengan tingkat religiusitas mahasiswa ilmu komunikasi Universitas Islam Indonesia. hal ini ditunjukkan dengan koefisien korelasi positif sebesar 0,421 yang berarti hubungan amtara pelaksanaan training ESQ 165 dan religiusitas mahasiswa sebesar 42,1% yaitu bearada pada kriteria hubungan cukup kuat dan hipotesis ditolak. Sehingga dapat disimpulkan pelaksanaan training ESQ 165 efektif dalam meningkatkan religiusitas mahasiswa.

Pelaksanaan training ESQ 165 mempunyai pengaruh positif dan signifikan terhadap tingkat religiusitas mahasiswa. Hal ini berarti dengan adanya pelaksanaan training ESQ 165 dapat semakin meningkatkan religiusitas mahasiswa ilmu komunikasi universitas islam indonesia. sedangkan besarnya pengaruh pelaksanaan training ESQ 165 terhadap tingkat religiusitas mahasiswa dapat dilihat dari nilai R Square yaitu 0,177 yang berarti sebesar 17,7% religiusitas mahasiswa ilmu komunikasi dipengaruhi oleh pelaksanaan training ESQ 165 sementara 82,3% lainnya diperngaruhi oleh faktor-faktor lain.

0 Response to "Efektifitas Pelaksanaan ESQ Terhadap Mahasiswa (MAKALAH KOMUNIKASI)"

Post a Comment